DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
ABSRAKSI
PRAKATA
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
BAB II. LANDASAN TEORI PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA
MELALUI TEKNIK BELAJAR KELOMPOK
A. Kajian Teori
1. Teori Belajar
2. Hakikat Pendidikan Agama Kristen
3. Landasan Teologis
4. Pembelajaran Kooperatif - Belajar Kelompok
5. Tujuan Belajar Kelompok
6. Manfaat Belajar Kelompok
7. Kelemahan Belajar Kelompo
8. Cara Belajar Kelompok
B. Hipotesis Tindakan
C. Alasan Memilih tindakan
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN PENINGKATAN HASIL BELAJAR
SISWA MELALUI TEKNIK BELAJAR KELOMPOK
A. Definisi Metodologi
1. Jenis Penelitian
2. Fokus Penelitian
B. Variabel Penelitian Tindakan Kelas
1. Pra Siklus
2. Siklus I
3. Siklus II
C. Populasi Sampel
1. Sampel
2. Waktu dan Tempat Penelitian
D. Sumber, Jenis dan Teknik Pengambilan Data
1. Sumber Data
2. Jenis Data
3. Cara Pengambilan Data
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum
B. Deskripsi Hasil Penelitian
C. Analisa atau Pengujian Hipotesis
D. Pembahasan
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Implikasi dan Rekomendasi
Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sehingga sasaran pendidikan menyangkut seluruh aspek kehidupan siswa, yaitu jasmani, rohani dan keahlian pribadi (kreatif dan mandiri)
Pendidikan Agama Kristen merupakan salah satu bidang studi yang diajarkan di Sekolah, yang memiliki kontribusi dalam mewujudkan tujuan pendidikan Nasional yang menanamkan sikap spiritual dan sosial. Dalam mewujudkan keberhasilan tujuan pendidikan, maka tolok ukur yang dipakai adalah proses pembelajaran dari awal sampai akhir serta penilaian yang disebut nilai (value) atau hasil belajar, bisa melalui ulangan harian, Penilaian Tengah Semester (PTS) dan Penilaian Akhir Semester (PAS).
Nilai atau hasil belajar adalah salah satu indikator yang bisa digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar seseorang. Nilai hasil belajar mencerminkan hasil yang dicapai seseorang dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dalam proses belajar mengajar, ada banyak faktor yang mempengaruhi pencapaian nilai hasil belajar siswa, baik yang berasal dari dalam diri siswa (internal) maupun dari lingkungan luar (eksternal). Faktor internal terkait dengan disiplin, respon dan motivasi siswa, sementara faktor eksternal adalah lingkungan belajar, tujuan pembelajaran, kreatifitas pemilihan media belajar oleh pendidik serta metode pembelajaran. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi satu sama lain dan merupakan satu kesatuan yang mendasari hasil belajar siswa.
Faktor yang disoroti adalah teknik atau penggunaan metode. Metode belajar konvensional yang diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen oleh guru masih didominasi oleh metode ceramah. Metode ceramah dianggap paling sederhana dan mudah dalam mempersiapkan maupun penyampaiannya. Metode tersebut kadang kala membuat bosan peserta didik jika tidak dikombinasikan dengan metode pembelajaran yang lain. Mengingat usia peserta didik Sekolah Menengah Atas tergolong usia yang senang untuk mengerjakan tugas dengan cara belajar bersama teman sebaya dalam suasana belajar kelompok, oleh karena itu sangat penting menerapkan teknik belajar kelompok di kelas.
Salah satu upaya yang dilakukan peneliti adalah memperkuat metode konvensional yang biasanya diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, dengan menggunakan teknik belajar kelompok. Mengacu pada model pembelajaran, maka model belajar kelompok termasuk kepada model cooperative. Menurut Slavin yang dikutip oleh Buchari Alma, model pembelajaran kooperatif atau Cooperative Learning merupakan suatu model pembelajaran dengan menggunakan kelompok kecil, bekerja sama. Keberhasilan dari model ini sangat tergantung pada kemampuan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun dalam bentuk kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Dengan kata lain dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap peserta didik anggota kelompok harus bekerja sama dan saling membantu satu sama lain.
Belajar kelompok merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Perlu diterapkannya pembelajaran kooperatif dalam bidang studi Pendidikan Agama Kristen sebagai upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik karena pembelajaran kooperatif tersebut diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan belajar (pencapaian akademik), meningkatkan keterlibatan serta aktivitas dan menambah motivas peserta didik. Aktivitas belajar yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif memungkinkan peserta didik dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama dan keterlibatan belajar.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah “PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI TEKNIK BELAJAR KELOMPOK
B. Identifikasi Masalah
Melihat persoalan di atas dan kondisi yang ada saat ini adalah:
1. Kurangnya minat atau semangat peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran pada bidang studi Pendidikan Agama Kristen.
2. Model pembelajaran yang diterapkan didominasi oleh ceramah.
3. Minimnya interaksi antar peserta didik.
4. Rendahnya hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, permasalahan yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan teknik Belajar Kelompok Pendidikan Agama Kristen Jakarta?
2. Apakah hasil belajar peserta didik setelah penerapan teknik belajar kelompok lebih baik daripada hasil belajar sebelumnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen?
D. Tujuan Penelitian
Setelah kegiatan penggunaan teknik belajar kelompok, tujuan yang akan dicapai dalam PTK (Penelitian Tindakan Kelas) ini adalah:
1. Meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran PAK.
2. Mengetahui bagaimana penerapan teknik belajar kelompok dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.
3. Mengetahui apakah hasil belajar peserta didik setelah penerapan teknik belajar kelompok lebih baik daripada hasil sebelumnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
a) Adanya variasai penggunaan model pembelajaran.
b) Penggunaan model belajar kelompok dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik dalam Pendidikan Agama Kristen.
2. Bagi Guru
Dapat memberikan informasi tentang metode pembelajaran yang efektif demi meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran PAK.
3. Bagi sekolah
Dapat dijadikan bahan kajian bersama agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.
4. Bagi Peneliti
Menambah pengalaman secara langsung bagaimana penggunaan model pembelajaran yang bervariasi.
Menjadi bekal sebagai guru PAK, agar siap melaksanakan tugas di lapangan sesuai kebutuhan.
BAB II
LANDASAN TEORI PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA
MELALUI TEKNIK BELAJAR KELOMPOK
A. Kajian Teori
1. Teori Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:17) : Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu dengan dilatih ditandai berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar pada dasarnya merupakan peristiwa yang bersifat individual yakni peristiwa terjadinya perubahan tingkah laku sebagai dampak dari pengalaman individu. Pengalaman dapat berupa situasi belajar yang sengaja diciptakan oleh orang lain atau situasi yang tercipta begitu adanya (Udin S. Winataputra dan Tita Rosita, 1994:10). Menurut Subandi (2004:2) menyatakan bahwa : Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang relatif menetap sebagai hasil dari sebuah pengalaman. Menurut Anthony Robbins yang dikutip oleh Trianto (2010:15) menyatakan bahwa : Belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu (pengetahuan) yang baru. Oemar Hamalik (1989:60) menyatakan bahwa : Belajar dalam konteks ilmu pendidikan adalah proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman dan latihan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar sebagai sebuah proses perubahan tingkah laku mengenai hal yang sudah dipahami maupun yang baru sebagai hasil dari pengalaman.
2. Hakikat Pendidikan Agama Kristen.
Hakikat Pendidikan Agama Kristen adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik, sehingga dengan pertolongan Roh Kudus mampu memahami dan menghayati kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan. Pendidikan Agama Kristen adalah bentuk usaha yang harus dilakukan terus menerus agar peserta didik dapat mengembangkan kemampuannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber dan pokok dari Pendidikan Agama Kristen ialah Yesus Kristus, oleh karena itu Pendidikan Agama Kristen dilaksanakan dalam rangka pembinaan iman, supaya peserta didik bertumbuh dan berkembang menjadi dewasa dalam iman, dewasa dalam gereja dan dewasa dalam bermasyarakat. Memiliki hubungan erat dengan Tuhan, menyerahkan diri kepada Tuhan, bertobat dan percaya kepada Allah. Sebagai umat yang percaya harus memiliki dasar dan pegangan hidup kepada Kristus, hidup dalam semangat persaudaraan dan saling mencintai, mewujudkan imannya dalam bermasyarakat, ikut serta mengembangkan masyarakat menjadi terang dan garam dunia serta menjalankan karya kasih bagi sesama.
3. Landasan Teologis
Pendidikan Agama telah ada sejak pembentukan umat Allah yang dimulai dengan panggilan terhadap Abraham, dilanjutkan kepada dua belas suku Israel sampai dengan zaman Perjanjian Baru. Sinagoge (rumah ibadah Yahudi) bukan hanya tempat ibadah melainkan menjadi pusat kegiatan pendidikan bagi anak-anak dan keluarga orang Yahudi. Kitab Ulangan 6: 4-9, Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengajarkan tentang kasih Allah kepada anak-anak dan kaum muda. Perintah ini kemudian menjadi kewajiban bagi umat Kristen dan lembaga gereja untuk mengajarkan kasih Allah.
Amsal 22: 6, Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. Betapa pentingnya penanaman nilai-nilai iman yang bersumber dari Alkitab bagi generasi muda, seperti tumbuhan yang sejak awal pertumbuhannya harus diberikan pupuk dan air, demikian pula kehidupan iman orang percaya harus dimulai sejak dini.
Matius 28:19-20, Tuhan Yesus memberikan amanat kepada tiap orang percaya untuk pergi ke seluruh penjuru dunia dan mengajarkan tentang kasih Allah. Perintah ini telah menjadi dasar bagi tiap orang percaya untuk turut bertanggung jawab terhadap Pendidikan Agama Kristen. Sejarah perjalanan agama Kristen turut dipengaruhi oleh peran Pendidikan Agama Kristen sebagai pembentuk sikap, karakter dan iman orang Kristen dalam keluarga, gereja dan lembaga pendidikan. Dengan demikian gereja, keluarga dan sekolah bertanggung jawab dalam tugas mengajar dan mendidik anak, remaja, dan kaum muda untuk mengenal Allah Pencipta, Penyelamat, Pembaru dalam kehidupan sehari-hari.2 Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di sekolah merupakan kesatuan yang utuh dengan pendidikan yang diterima baik di rumah maupun di keluarga, gereja dan masyarakat. Perkembangan, keberadaan, pergumulan, kebutuhan, kondisi kongkrit siswa yang seringkali berbeda-beda haruslah menjadi pertimbangan guru dalam merancang pembelajaran sehingga peserta didik mengalami perubahan secara kognitif, afektif maupun psikomotor.
4. Pembelajaran Kooperatif - Belajar Kelompok
Pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang baru, para guru selama bertahun-tahun sudah menggunakannya dalam bentuk kelompok laboratorium, kelompok tugas, kelompok diskusi, dan sebagainya. Jenis pembelajaran kooperatif diantaranya adalah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, STAD (Student Team Achievement Division), TAI (Team Assisted Individualization), dan lain sebagai nya. Pengelompokan belajar dapat dilakukan berdasarkan:
Pertama, pengelompokkan atas dasar kesenangan berkawan. Pengelompokkan atas dasar kemampuan dan pengelompokan menurut minat. Langkah pertama untuk melaksanakan pengelompokkan belajar, yaitu pembentukan kelompok dilakukan oleh siswa. Cara ini, dilakukan berdasarkan pemilihan anggota kelompok atas dasar rasa simpatik satu sama lain. Minat yang sama didorong kemauan yang sama untuk memperoleh hasil yang baik dengan cara bekerja sama.
Kedua, pembentukan kelompok yang dibentuk oleh guru. Cara ini, biasanya didasarkan pada perbedaan heterogen anak, sebagai contoh tempat duduk yang berdekatan, urutan presensi anak, taraf prestasi anak, dan sebagainya.
Ketiga, pembentukan kelompok diatur oleh guru atas usulan dari peserta didik. Mengusulkan nama-nama dalam keanggotaan kelompok belajar, berdasarkan pertimbangan guru dapat menetapkan keanggotaan tersebut. Peserta didik mengisi angket, dengan menuliskan nama teman yang dipilih, kemudian hasil diberikan kepada guru.
5. Tujuan Belajar Kelompok
Belajar kelompok bertujuan untuk mengembangkan pemikiran kritis ketika memecahkan masalah, mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi, serta memperkuat kepercayaan terhadap keterampilan siswa. Pembentukan kelompok belajar dapat memotivasi semangat belajar antara peserta didik. Berbagi informasi dan pengetahuan dengan temannya. Membangun komunikasi timbal balik dengan diskusi. Mengoptimalkan keterampilan berpikir siswa untuk menanggapi masalah. Menambah semangat belajar dan meningkatkan suatu kualitas kolaborasi, toleransi, pemikiran kritis dan disiplin.
a. Menjadi Pendengar dan Komunikator Aktif
Ketika proses belajar kelompok, seseorang perlu mendengarkan apa yang dikatakan temannya serta harus aktif. Jika tidak setuju atau memiliki pendapat lain, harus membuka pikiran secara terbuka.
b. Saling Menghormati Perbedaan dalam Menyelesaikan Tugas
Memiliki komitmen untuk saling menghargai perbedaan.
c. Membaur atau bersosialisasi
Saling mendengarkan dan memahami. Belajar secara berkelompok dapat melatih diri untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Soal atau tugas yang sulit bisa diselesaikan secara bersama-sama.
d. Meningkatkan Semangat belajar
Peran belajar kelompok mampu meningkatkan motivasi dan semangat belajar
e. Saling Bertanya dan Berdiskusi dengan teman
Tidak semua siswa sama dalam hal menerima pelajaran dengan baik ketika di dalam kelas. Ada saatnya kita kurang mengerti dan sungkan bertanya kepada guru. Saat belajar kelompok inilah dapat bertanya dengan leluasa kepada teman. Tanpa rasa sungkan ataupun malu karena sudah saling mengerti.
f. Proses Melatih Tanggung Jawab
Belajar dan mengerjakan tugas secara berkelompok juga melatih tanggung jawab karena membutuhkan partisipasi dalam mengerjakan tugas bersama.
g. Berbagi Ilmu dan Bertukar Pikiran
Saling berbagi ilmu dan bertukar pendapat serta membantu teman yang sulit dalam memahami tugas yang telah diberikan.
6. Manfaat Belajar Kelompok
Dalam penelitian ini penulis memilih menggunakan teknik belajar kelompok dalam peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen, dikarenakan belajar kelompok atau kerja kelompok dilakukan atas dasar pandangan bahwa peserta didik merupakan satu kesatuan yang dapat belajar bersama, berbaur untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Dalam prakteknya, ada beberapa jenis belajar kelompok yang dapat dilaksanakan yang semua itu tergantung pada tujuan khusus yang ingin dicapai berdasarkan umur, kemampuan siswa, fasilitas, jenis tugas, dan media yang tersedia.
Teknik belajar kelompok : Pertama, untuk mengembangkan kemampuan siswa, dengan memberi sugesti, motivasi, dan informasi; Kedua, melatih peserta didik untuk mengembangkan potensi dengan berinteraksi; Ketiga, memupuk rasa kebersamaan dengan cara bekerjasama memecahkan persoalan berupa tugas dari guru; Keempat, melatih keberanian siswa; dan Memantapkan pengetahuan yang telah diterima oleh peserta didik.
7. Kelemahan Belajar Kelompok
Semua metode atau teknik belajar mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing, termasuk metode belajar kelompok. Adapun kelemahan dari metode belajar kelompok, yaitu:
v Terlalu banyak persiapan-persiapan dan pengaturan yang kompleks dibanding dengan metode lain.
v Bilamana guru di sekolah dan orang tua di rumah kurang mengontrol maka akan terjadi persaingan yang negatif antar kelompok.
v Tugas-tugas yang diberikan kadang-kadang hanya dikerjakan oleh segelintir siswa yang cakap dan rajin, sedangkan siswa yang malas akan menyerahkan tugas-tugasnya kepada temannya dalam kelompok tersebut.
Ditinjau dari segi pedagogis, kegiatan kelompok dapat meningkatkan kualitas kepribadian siswa, seperti adanya kerjasama, toleransi, berpikir kritis, dan disiplin. Ditinjau dari segi psikologis, timbul persaingan yang positif antar kelompok karena mereka bekerja pada masing-masing kelompok. Ditinjau dari segi sosial, anak yang pandai dalam kelompok tersebut dapat membantu anak yang kurang pandai dalam menyelesaikan tugas.
8. Cara Belajar Kelompok
Beberapa petunjuk yang dapat dilakukan dalam melaksanakan metode belajar kelompok, yaitu:
1) Tentukan peserta didik yang paling cocok untuk bergabung dalam satu kelompok yang terdiri dari 3-5 orang. Anggota yang terlalu banyak biasanya kurang efektif.
2) Tentukan kapan, di mana, dan apa yang akan dibahas serta apa yang perlu dipersiapkan untuk keperluan diskusi. Lakukan secara rutin minimal satu kali dalam satu minggu.
3) Setelah berkumpul secara bergilir tetapkan siapa pimpinan kelompok yang akan mengatur diskusi dan siapa penulis yang akan mencatat hasil diskusi.
4) Rumuskan pertanyaan atau permasalahan yang akan dipecahkan bersama dan batasi ruang lingkupnya agar pembahasan tidak menyimpang.
5) Bahas dan pecahkan setiap persoalan satu persatu sampai tuntas, dengan cara memberi kesempatan kepada setiap anggota mengajukan pendapatnya. Dari setiap pendapat yang muncul, dikaji secara bersama manakah yang paling tepat. Kesimpulan jawaban yang telah disepakati bersama dicatat oleh penulis.
6) Bila ada persoalan yang tidak dapat dipecahkan atau tidak ada kesepakatan antar anggota, tangguhkan saja untuk dimintakan pendapatnya kepada guru. Lanjutkan saja kepada persoalan yang lain.
7) Kesimpulan hasil diskusi dicatat penulis, lalu dibagikan kepadaanggota kelompok untuk dipelajari lebih lanjut.
9. Pe nerapan Teknik Belajar Kelompok Dalam Pembelajaran PAK
Materi Pokok Mengasihi dan Menghasilkan Perubahan
Untuk memahami materi Mengasihi dan Menghasilkan Perubahan, peneliti menggunakan model belajar kelompok, terdiri dari beberapa tahap, antara lain:
1) Guru menyampaikan materi pelajaran, yaitu pengertian Mengasihi dan Menghasilkan Perubahan.
2) Guru membagi kelompok dengan anggota tiap kelompok 4 orang peserta didik.
3) Guru bersama peserta didik mendiskusikan tentang materi Mengasihi dan Menghasilkan Perubahan.
4) Guru memberikan soal tentang definisi Mengasihi dan Menghasilkan Perubahan. dalil-dalil yang memerintahkannya, serta ketentuan-ketentuan dan aplikasi bahwa remaja harus Mengasihi dan Menghasilkan Perubahan dalam kehidupan sehari-hari dalam kelompok. Kemudian guru memberikan bimbingan pada tiap kelompok. Bagi peserta didik yang sudah bisa dan paham agar menjelaskan pada teman dalam kelompoknya.
5) Tiap kelompok diminta menyelesaikan soal berkompetisi secepat mungkin. Bagi kelompok yang menyelesaikan lebih dahulu, salah satu wakilnya diminta menyampaikan pekerjaan kelompok di depan kelas dengan bimbingan guru. Bagi kelompok yang maju diberikan penghargaan nilai sebagai penguatan dan motivasi.
6) Dengan membiasakan peserta didik menggunakan teknik belajar kelompok di atas diharapkan adanya peningkatan hasil belajar siswa.
B. Hipotesis Tindakan
Hipotesis berasal dari 2 kata, yaitu “hypo” yang artinya “di bawah” dan “thesa” artinya “kebenaran”. Hipotesis adalah jawaban sementara yang kebenarannya masih perlu diuji. Sedangkan menurut Donald Ary, 1992:120, hipotesis adalah suatu pernyataan sementara yang diajukan untuk memecahkan suatu masalah, atau untuk menerangkan suatu gejala. Dengan demikian hipotesis adalah jawaban sementara terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian. Berdasarkan landasan teori yang telah penulis uraikan di atas maka penulis mengajukan hipotesis tindakan sebagai berikut:
1. Penerapan teknik belajar kelompok dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen materi pokok Mengasihi dan Menghasilkan Perubahan pada peserta didik Jakarta adalah langkah-langkah pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
2. Hasil belajar peserta didik setelah penerapan teknik belajar kelompok lebih baik daripada hasil belajar sebelumnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen materi pokok Mengasihi dan Menghasilkan Perubahan pada peserta didik.
C. Alasan Memilih Tindakan
Belajar merupakan kegiatan yang disengaja untuk mengubah tingkah laku sehingga diperoleh pemahaman baru, oleh karena itu kualitas perubahan sangat dipengaruhi oleh pendekatan guru, dimana dalam prosesnya perlu diberikan motivasi agar kualitas perubahan itu menjadi lebih baik.
Dengan menggunakan teknik belajar kelompok, mendorong peserta didik untuk lebih aktif, giat dan antusias dalam mengikuti Proses Belajar Mengajar sekaligus membuat siswa lebih tertarik dan siap dalam menerima pelajaran. Dalam kegiatan belajar hasil yang diharapkan tidak semata-mata secara kuantitatif tetapi juga perubahan sikap dan perilaku.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Definisi Metodologi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metodologi adalah ilmu tentang metode atau uraian tentag metode, sedangkan metode adalah cara yang teratur dan berpikir baik-baik untuk mencapai maksud atau cara kerja bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai suatu tujuan yang ditentukan. Dari pendekatan ilmu komunikasi, metode merupakan alat yang digunakan untuk mengkomunikasikan pengetahuan atau ide-ide. Jusuf Soewardji menyatakan, metodologi atau yang disebut “Methodologi of research” berasal dari kata “metode” yang berarti cara atau teknik dan “logos” yang berarti ilmu. Sehingga metode penelitian berarti ilmu yang mempelajari tentang cara atau metode untuk melakukan penelitian.
Jadi metodologi penelitian merupakan suatu usaha atau proses untuk mencari jawaban atas suatu pertanyaan atau masalah, yang mempergunakan cara ilmiah. Metode mana yang cocok untuk digunakan menjawab masalah, isu atau tesis objek penelitian tersebut. Berdasarkan uraian di atas maka ada empat kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaan. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional dimana kegiatan penelitian dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Kemudian empiris yaitu cara-cara yang dilakukan dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Selanjutnya, penelitian juga dilakukan dengan sistematis, artinya proses yang digunakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada pelajaran Pendidikan Agama Kristen, suatu bentuk investigasi yang bersifat reflektif partisipatif, kolaboratif, dan spiral yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan sistem, metode kerja, proses, isi, kompetensi, dan situasi. Tahapan pelaksanaan PTK yang merupakan titik-titik estafet yang terdapat dalam suatu siklus. Tahap-tahap tersebut meliputi: penetapan fokus masalah penelitian, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan interpretasi, analisis dan refleksi. Secara lebih rinci prosedur berdaur pelaksanaan PTK dapat di gambarkan sebagai berikut :
Alur Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Langkah pertama, rencana (planning) kegiatan yang di lakukan antara lain yaitu mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah dan analisis penyebab masalah, dan pengembangan intervensi (action/solution). Kedua, tindakan (acting) yang dilaksanakan peneliti untuk memperbaiki masalah seperti tindakan apa yang pertama kali dilakukan? Bagaimana organisasi kelas? Siapa yang menjadi kolaborator? Siapa yang mengambil data?. Ketiga, pengamatan (observing) adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran, data apa saja yang perlu dikumpulkan? Bagaimana cara pengumpulan dan analisis data? Keempat, refleksi (reflecting) tentang perubahan yang terjadi (a) pada siswa, (b) suasana kelas, dan (c) guru.
Pada tahap ini, guru sebagai peneliti menjawab pertanyaan mengapa, bagaimana, dan seberapa jauh intervensi telah menghasilkan perubahan secara signifikan. Kolaborasi dengan teman (termasuk para ahli) akan berperan penting dalam memutuskan seberapa jauh action telah membawa perubahan: apa/di mana perubahan terjadi, mengapa demikian, apa kelebihan/kekurangan, bagaimana langkah-langkah penyempurnaannya, dan sebagainya.
Rangkaian kegiatan di atas disebut dengan satu siklus kegiatan pemecahan masalah, apabila dalam satu siklus belum menunjukkan perubahan ke arah perbaikan yang signifikan, maka kegiatan penelitian dilanjutkan pada siklus kedua dan seterusnya. Jadi, dalam satu siklus masing-masing terdiri dari planning, acting, observing, dan reflecting.
2. Fokus Penelitian
Dalam penelitian ini penulis memfokuskan pada penerapan teknik belajar kelompok sebagai upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pelajaran Pendidikan Agama Kristen pokok bahasan mengasihi dan menghasilkan perubahan. Peneliti memilih Kelas 10 yang dijadikan subyek penelitian karena berdasarkan observasi, karakteristik peserta didiknya kurang tertarik untuk belajar Pendidikan Agama Kristen sehingga hasil belajar yang dicapai masih banyak di bawah KKM.
B. Variabel Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian ini menggunakan desain penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas siklus-siklus. Dalam penelitian ini diambil 2 siklus. Masing-masing siklus mencakup empat tahap kegiatan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), refleksi (reflecting). Adapun langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan di setiap siklus secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pra Siklus
Dalam pra siklus ini peneliti belum menerapkan metode yang akan ditawarkan pada mata pelajaran sehingga pengajaran yang digunakan masih murni belum tercampur oleh peneliti. Model pembelajaran yang dipakai adalah model pembelajaran yang bersifat konvensional dalam bentuk ceramah. Maka hal itu akan mengakibatkan suatu pembelajaran yang monoton yang akhirnya membuat peserta didik merasa bosan. Akibatnya, hasil belajar yang diperoleh peserta didik masih banyak yang belum mencapai KKM yang telah ditentukan. Nilai rata-rata peserta didik juga masih dikatakan rendah. Informasi tersebut di peroleh dari wawancara dan observasi secara langsung pada tanggal 01 dan 02 Oktober 2020.
Maka dari itu, perlu adanya penelitian tindakan kelas, guna meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang sesuai dengan KKM yang telah ditentukan.
2. Siklus I
Siklus I ini dilaksanakan dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 16 dan 23 Oktober 2020. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan teknik belajar kelompok pada siklus I dilaksanakan melalui beberapa tahap yaitu, sebagai berikut:
a. Perencanaan
1. Peneliti mengidentifikasi permasalahan dalam pembelajaran yang terdiri dari metode mengajar yang digunakan dan hasil belajar peserta didik yang rendah.
2. Guru memilih materi pokok yang akan diteliti yaitu materi pokok bahasan Mengasihi dan Menghasilkan Perubahan
3. Peneliti merencanakan pembelajaran dengan teknik belajar kelompok, yaitu dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
b. Pelaksanaan
1. Guru membuka pelajaran kemudian mengecek kehadiran peserta didik.
2. Guru memberikan apersepsi tentang Mengasihi dan Menghasilkan Perubahan dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
3. Guru memberikan penjelasan pada peserta didik tentang pembelajaran dengan menggunakan teknik belajar kelompok.
4. Bagi kelompok yang dapat menyelesaikan dahulu, salah satu wakilnya diminta menyampaikan pekerjaan kelompok di depan kelas kepada seluruh kelompok dengan bimbingan guru. Bagi kelompok yang maju diberikan penghargaan nilai sebagai penguatan dan motivasi.
5. Guru bersama peserta didik membuat kesimpulan dari hasil diskusi yang telah dilaksanakan pada siklus I.
6. Guru melakukan tes formatif dan memberikan angket peserta didik terhadap pembelajaran teknik belajar kelompok.
c. Pengamatan
Peneliti melakukan pengamatan dan penilaian terhadap peserta didik dan guru yang terdiri dari :
1. Pengamatan aspek psikomotorik yaitu ketrampilan motorik peserta didik yang terdiri dari kemampuan menyampaikan informasi, kemampuan memberikan pendapat atau ide, kemampuan mengajukan pertanyaan, dan kemampuan mengajukan argumentasi.
2. Untuk sikap (aspek afektif) peserta didik didapat melalui angket yang meliputi: sikap, perhatian, tanggapan peserta didik terhadap pembelajaran dan pemberian tugas dari guru.
3. Pengamatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, dalam hal ini aspek yang diamati adalah apersepsi, penyampaian materi, penerapan pembelajaran teknik belajar kelompok dan menutup pelajaran.
d. Refleksi
1. Peneliti memberikan skor perkembangan kelompok belajar dan penghargaan untuk kelompok dengan skor tertinggi.
2. Peneliti mengolah hasil pengamatan, hasil evaluasi dan kuis pada siklus.
3. Peneliti mengamati dan menilai selama proses pembelajaran pada siklus I ditinjau dari tingkat keberhasilannya. Seorang peserta didik dipandang tuntas belajar jika mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran minimal 65% dari seluruh tujuan pembelajaran. Sedangkan keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan atau mencapai minimal 65%, sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut.
3. Siklus II
Siklus II dilaksanakan dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 2 dan 3 Oktober 2020. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan teknik belajar kelompok siklus II dilaksanakan melalui beberapa tahap yaitu, sebagai berikut:
a. Perencanaan
1. Peniliti mengidentifikasi permasalahan dalam pembelajaran yang terdiri dari metode mengajar yang digunakan dan hasil belajar peserta didik.
2. Guru memilih materi pokok yang akan diteliti yaitu materi pokok Mengasihi dan Menghasilkan Perubahan.
3. Peneliti merencanakan pembelajaran dengan model teknik belajar kelompok pada siklus II, yaitu dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
b. Pelaksanaan
1. Guru membuka pelajaran kemudian mengecek kehadiran peserta didik.
2. Guru memberikan apersepsi tentang materi pokok Mengasihi dan menghasilkan perubahan sub pokok cinta kasih yang memadamkan permusuhan serta menyampaikan tujuan pembelajaran.
3. Guru memberikan penjelasan pada peserta didik tentang pembelajaran menggunakan teknik belajar kelompok pada siklus II.
c. Pengamatan
Peneliti melakukan pengamatan dan penilaian terhadap peserta didik dan guru yang terdiri dari:
1. Pengamatan aspek psikomotorik yaitu ketrampilan motorik peserta didik yang terdiri dari kemampuan menyampaikan informasi, kemampuan memberikan pendapat atau ide, kemampuan mengajukan pertanyaan, dan kemampuan mengajukan argumentasi.
2. Untuk sikap (aspek afektif) peserta didik didapat melalui angket yang meliputi: sikap, perhatian, tanggapan peserta didik terhadap pembelajaran dan pemberian tugas dari guru.
3. Pengamatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, dalam hal ini aspek yang diamati adalah apersepsi, penyampaian materi, penerapan pembelajaran belajar kelompok, dan menutup pelajaran.
d. Refleksi
Refleksi pada siklus II ini dilakukan untuk melakukan penyempurnaan tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan teknik belajar kelompok yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam proses pembelajaran.
1) Peneliti memberikan skor perkembangan anggota kelompok dan penghargaan untuk kelompok dengan skor tertinggi.
2) Peneliti mengolah hasil pengamatan dan hasil evaluasi dan kuis peserta didik pada siklus II.
3) Peneliti mengamati dan menilai hasil selama proses pembelajaran pada siklus II.
C.Populasi dan Sampel
1. Sampel
Sampling dalam riset ini disebut informan sebagai nara sumber, atau partisipan. Sampel yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sampel teoritis, dimana tujuan penelitian untuk menghasilkan teori. Pada penelitian kualitatif, peneliti memasuki situasi sosial tertentu, melakukan observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi sosial tertentu. Subyek yang diteliti dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah siswa Kelas 10 SMAN 15 Jakarta semester ganjil tahun ajaran 2020-2021 dengan jumlah siswa 9 orang terdiri atas siswa putra 4 orang dan siswa putri 5 orang. Adapun yang diteliti adalah aktivitas peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran, tanggapan peserta didik dan hasil belajarnya sebelum dan setelah mengikuti proses pembelajaran dengan teknik belajar kelompok pada tiap-tiap siklus.
NO | NAMA |
1 | SASHY EDELWEIS |
2 | ALICIA GABRIELA |
3 | SAMUEL DANAJAYAN |
4 | RENATA PATRIVIA |
5 | REYNOLD BENNEDICT |
6 | MIKA RODAME |
7 | RENATA PATRICIA |
8 | MIKA RODAME |
9 | BERNARD SATRIA |
Tabel 2.1
Daftar Nama Peserta Didik Kelas 10 SMAN 15 Jakarta
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tanggal 01 Oktober sampai 25 November 2020. Adapun yang digunakan sebagai tempat penelitian adalah SMAN 15 Jakarta Jalan Agung Utara STS Blok A Kel. Sunter Kec. Tanjung Priok Jakarta
D. Jenis, Sumber dan teknik Pengumpulan Data
1. Sumber data
Data utama penelitian ini bersumber dari peserta didik dalam proses pembelajaran dan setelah pembelajaran dengan menggunakan teknik belajar kelompok pelajaran Pendidikan Agama Kristen pokok bahasan Mengasihi dan Menghasilkan perubahan
2. Jenis data
a. Kualitatif:
- Data tentang pelaksanaan pembelajaran oleh guru
- Data tentang hasil wawancara guru dan peserta didik
b. Kuantitatif:
- Data tentang hasil evaluasi belajar peserta didik
- Data tentang hasil angket peserta didik
- Data tentang aktivitas peserta didik
3. Cara pengambilan data
Dalam penelitian ini jenis-jenis data di atas diambil dengan cara menggunakan beberapa metode, yaitu:
a. Metode Tes
Adalah seperangkat rangsangan (stimulasi) yang mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka.
Metode tes ini digunakan untuk mengetahui skor nilai melalui angka yang diberikan kepada peserta didik dengan kriteria-kriteria penskoran sebagaimana telah tertulis. Dan untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam hal pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan menerapkan teknik belajar kelompok.
b. Metode Wawancara
Metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan berdasarkan kepada tujuan penyelidikan. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang tanggapan siswa terhadap teknik belajar kelompok dengan menggunakan lembar wawancara.
c. Metode Observasi
Metode observasi adalah sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematis atas fenomena-fenomena yang diteliti. Penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan terhadap obyek, baik secara langsung maupun tidak langsung, sengaja maupun tidak sengaja, dan semua dicatat dalam kegiatan observasi yang terencana secara fleksibel dan terbuka.
Metode ini digunakan untuk menggali data tentang situasi atau kondisi kelas pada saat pembelajaran dengan teknik belajar kelompok berlangsung, metode ini diambil dengan menggunakan lembar observasi.
E. Teknik Analisa Data
1. Pengambilan Data
Untuk menganalisis data yang telah terkumpul, dilakukan analisis hasi l yang telah di capai peserta didik dalam lembar observasi, kuesioner, interview, dan tes evaluasi. Data observasi penelitian diberikan dengan pemberian nil ai berupa angka yang di kategori kan dengan kurang, cukup, baik, dan sangat baik. Pada tindakan setiap siklus masing-masing 2 kali pertemuan untuk satu siklus, kemudian diberi perlakuan kegiatan yang meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
2. Hasil Observasi
Hasil observasi proses pembelajaran adalah dengan menghitung jumlah skor pengamatan dengan teknik dan kriteria sebagai berikut:
1) Lembar observasi psikomotorik peserta didik
Untuk mengetahui tentang kemampuan psikomotorik peserta didik dalam mengikuti proses KBM, maka penulis membuat 4 aspek pengamatan yang meliputi: kemampuan menyampaikan informasi, kemampuan memberi kan pendapat, kemampuan mengajukan pertanyaan, kemampuan mengajukan argumentasi. Kemudian data yang diperoleh dianalisis pada instrumen lembar observasi dengan menggunakan teknik deskri ptif melalui persentase. Adapun perhitungan persentase keaktifan peserta didik adalah:
Rumus 3.1
Lembar observasi tentang pelaksanaan pembelajaran oleh guru
Untuk mengetahui tentang pelaksanaan pembelajaran oleh guru dengan menggunakan teknik belajar kelompok, maka penulis membuat 4 aspek pengamatan yang meliputi: apersepsi, penyampaian materi pokok, penerapan teknik belajar kelompok, menutup pelajaran. Kemudian data yang diperoleh dianalisis pada instrumen lembar observasi dengan menggunakan teknik deskriptif melalui persentase. Adapun rumus persentase dan indikator keberhasilannya adalah:
Rumus 3.2
Penilaian aspek kognitif peserta didik diambil melalui tes evaluasi peserta didik pada akhir pembelajaran siklus. Dari data hasil tes peserta didik pada tiap siklus akan diketahui hasil persentase ketuntasan belajar peserta didik.
Alma, Buchari. 2008. Guru Profesional. Alfabeta : Bandung
Alwi, Hasan. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Balai Pustaka : Jakarta
Busthan, Paskalinus & Tomatala, Yakob. 2009. Penuntun Desain Riset. YT Leadership Foundation : Jakarta
Donald, Ary. 1982). Pengantar Penelitian dan Pendidikan. Usaha Nasional : Surabaya
Sidjabat, B.S. 1994. Menjadi Guru Profesional. Kalam Hidup : Bandung
Soewardji, Jusuf. 2003. Analisis Data Kualitatif. Rajagrafindo Persada : Jakarta
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif R&B.Afabeta : Bandung
Rostrieningsih dan Maisaroh. tt. “Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 8 Nomor 2,” (PTK Peningkatan Hasil Belajar Siswa dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Aktive Learning Tipe Quiz Team pada Mata Pelajaran Keterampilan Dasar Komunikasi di SMK Negeri 1 Bogor
Ramadhani, Niko “Pentingnya Memahami Tujuan dan Fungsi Pendidikan” artikel diakses pada 2 Oktober 2020 dari https://www.akseleran.co.id/blog/pendidikan/#
Mulyana, Aina “Metode Kerja Kelompok” artikel diakses pada 1 Oktober 2020 dari https://ainamulyana.blogspot.com/2012/02/metode-kerja-kelompok.html



