RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah : SMAN 15 Jakarta
Mata
Pelajaran :
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti
Kelas/Semester
: X / Ganjil
Materi
Pokok : Hidup Dalam Kesetiaan
Alokasi
Waktu : 40 Menit
A.
Kompetensi Inti
KI-1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya.
KI-2: Menghayati dan mengamalkan
perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan
pro-aktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di
lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa,
negara, kawasan regional, dan kawasan internasional.
KI-3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa
ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora
dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada
bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah
KI-4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam
ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif,
serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan
B.
Kompetensi Dasar
KD 3.4 Menganalisis makna kebersamaan dengan orang lain tanpa kehilangan identitas
3.5 Memahami keberadaan Allah sebagai pembaharu kehidupan manusia
dan alam
4.3 Menyajikan presentasi
berkaitan dengan peran Roh Kudus sebagai
pembaharu dengan mengacu pada
Alkitab
C.
Indikator
Pencapaian Kompetensi
3.4.1 Menjelaskan hubungan antara kasih dan
kesetiaan
3.5.1 Membedakan kesetiaan yang benar dengan
kesetiaan yang keliru.
3.6.1 Mennganalisis kesetiaan yang benar
menurut Alkitab.
4.2.2 Menyajikan presentasi berkaitan
dengan peran Roh Kudus sebagai
pembaharu dengan mengacu pada
Alkitab
D.
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:
1. Menjelaskan hubungan antara
kasih dan kesetiaan
2. Membedakan kesetiaan yang benar dengan kesetiaan
yang keliru.
3. Mennganalisis kesetiaan yang
benar menurut Alkitab.
4. Menyajikan presentasi berkaitan dengan peran Roh Kudus sebagai pembaharu dengan mengacu
pada Alkitab
E.
Materi Pembelajaran
Hidup Dalam Kesetiaan https://www.youtube.com/watch?v=bj5cZUVQYko
1.
Contoh-contoh
kesetiaan
2.
Hubungan antara kasih dan
kesetiaan
3.
Kesetiaan yang benar dan kesetiaan yang keliru
4.
Kesetiaan
menurut Alkitab
F.
Metode
Pembelajaran
Model
Pembelajaran : Discovery
Learning
Metode : Ceramah, Tanya jawab dan diskusi
G.
Media
Pembelajaran
Media : Worksheet atau lembar kerja (siswa)
· Lembar penilaian
·
LCD Proyektor
Alat/Bahan :
· Spidol dan papan
tulis
· Laptop &
infocus
H.
Sumber Belajar
·
Buku Pendidikan
Agama Kristen Siswa Kelas X, Kemendikbud, Tahun 2017
·
Buku refensi
yang relevan,
·
Bahan
Alkitab: Kejadian 29:13-28; Mazmur 85:8-14; Matius 28:18-20;
Yohanes 3:16
·
Lingkungan
setempat
|
Kegiatan Pendahuluan (5 Menit) |
||||
|
Guru
: |
||||
|
Orientasi |
||||
|
● |
Melakukan
pembukaan dengan salam pembuka dan berdoa
untuk memulai pembelajaran |
|||
|
● |
Memeriksa
kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin |
|||
|
● |
Menyiapkan
fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran. |
|||
|
Aperpepsi |
||||
|
|
Menanyakan
pengalaman peserta didik perihal kesetiaan |
|||
|
Motivasi |
||||
|
● |
Apabila
materi dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan
kembali tentang materi : Hidup Dalam Kesetiaan |
|||
|
● |
Menyampaikan
tujuan pembelajaran |
|||
|
|
|
|||
|
Pemberian
Acuan |
||||
|
● |
Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada
pertemuan saat itu. |
|||
|
● |
Memberitahukan
tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan
yang berlangsung |
|||
|
● |
Pembagian
kelompok belajar |
|||
|
Kegiatan Inti ( 30 Menit ) |
||||
|
Sintak Model Pembelajaran |
Kegiatan Pembelajaran |
|||
|
Mengamati
Guru meminta peserta didik mengamati cuplikan video yang ditayangkan |
Peserta didik mengamati cuplikan video yang ditayangkan |
|||
|
|
||||
|
Menanya Guru
menanyakan kepada peserta didik, sehubungan
dengan cuplikan video yang
ditayangkan tentang kesetiaan
Yakub |
Berpikir Kritis |
|||
|
Peserta didik menjawab, perihal kesetiaan Yakub
terhadap pamannya Laban. Kolaborasi (Kerjasama) Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk: Mengumpulkan
informasi Peserta
didik menjawab pertanyaan tentang kesetiaan Yakub 1. Apa yang kamu temukan
dalam cerita ini tentang kesetiaan? 2. Apa kaitan antara cinta dengan kesetiaan? 3. Jelaskan contoh-contoh tentang kesetiaan di dalam hidup sehari-hari 4). Jelaskan bagaimana kesetiaan itu mencerminkan cinta kasih seseorang
kepada orang lain (orangtua atau anak). Mempresentasikan ulang Peserta didik mengkomunikasikan dengan
mempresentasikan kesetiaan Yakub sesuai dengan pemahamannya. |
||||
|
Mengeksplorasi
Guru
mengajak peserta didik untuk mengeksplorasi isi materi pembelajaran, Hidup
dalam Kesetiaan |
1. Peserta didik menyimak
penjelasan materi : Hidup dalam Kesetiaan |
|||
|
2. Mengajukan pertanyaan
atas hal-hal yang belum dipahami dari materi : Hidup dalam Kesetiaan |
||||
|
|
|
|||
|
Mengasosiasikan Guru
mengajak peserta didik untuk menghubungkan substansi materi pembelajaran
dengan kenyataan sehari-hari yaitu Hidup
dalam Kesetiaan |
Peserta
didik menghubungkan substansi materi pembelajaran dengan kenyataan sehari-hari sehubungan dengan Hidup
dalam Kesetiaan 1. Kepada Allah 2. Kepada orang tua 3. Sekolah 4. Dunia kerja kelak |
|||
|
Mengkomunikasikan
Guru
membimbing peserta didik untuk melaporkan,
mengungkapkan atau mempresentasikan kajian yang telah dilaksanakan. |
Berkomunikasi |
|||
|
Peserta
didik berdiskusi untuk menyimpulkan |
||||
|
→ |
*
Materi Hidup dalam Kesetiaan berdasarkan hasil analisis secara lisan,
tertulis, atau media lainnya untuk mengembangkan sikap jujur, teliti,
toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan
sopan. |
|||
|
→ |
Peserta didik diminta untuk menjawab, ya atau tidak mengenai sikap di
bawah ini: 1. Kalau kamu benar-benar
teman yang setia, kamu harus menolong aku waktu ulangan nanti. Ya / Tidak 2. Kamu harus menunjukkan
kesetiaan kamu kepada negara dengan mendukung semua program pemerintah, apapun program tersebut. Ya / Tidak 3. Kalau kamu memang
bagian dari kelompok kami, kamu harus ikut dalam tawuran melawan anak SMA “Kebon Pisang” nanti siang! Ya / Tidak 4. Temanmu mengalami musibah
karena rumah nya di permukiman yang ilegal kebakaran. Teman-teman mengajak kamu mengumpulkan uang untuk menolong dia dan keluarganya. Ya / Tidak 5. Hari Jumat depan
adalah “hari kejepit nasional”, karena hari Kamisnya kita libur. Mari kita ramai ramai membolos! Ya / Tidak |
|||
|
|
*
Mempresentasikan jawaban siswa |
|||
|
→ |
*
Mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan dan
ditanggapi oleh yang lain |
|||
|
Catatan
: Selama pembelajaran Hidup
dalam Kesetiaan berlangsung, guru mengamati sikap siswa
dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme, disiplin, rasa percaya diri, berperilaku
jujur, tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli
lingkungan |
||||
|
Kegiatan Penutup (5 Menit) |
||||
|
Peserta
didik : |
||||
|
● |
Membuat
kesimpulan dengan bimbingan guru tentang point-point dalam kegiatan
pembelajaran tentang materi Hidup
dalam Kesetiaan. |
|||
|
● |
Mengadakan
Evaluasi pembelajaran Mengagendakan
pekerjaan rumah. |
|||
|
● |
Mengagendakan
materi yang harus dipelajari pada pertemuan berikutnya. |
|||
|
|
||||
|
Guru
:
|
Mengakhiri
Kegiatan Pembelajaran dengan Berdoa. |
|||
I.
Penilaian Hasil
Pembelajaran
1. Penilaian Skala
Sikap
Berilah tanda
“centang” (√) yang sesuai dengan kebiasaan kamu terhadap pernyataan-pernyataan
yang tersedia!
1. Menghayati nilai-nilai Kristiani: kesetiaan, kasih dan keadilan dalam
kehidupan sosial.
2. Meneladani Yesus dalam mewujudkan nilai-nilai Kristiani: kesetiaan,
kasih dan keadilan dalam kehidupan sosial.
3. Bersyukur kepada Tuhan yang telah terlebih dahulu memperlihatkan kasih-Nya
yang penuh pengorbanan.
|
No |
Pernyataan |
Kebiasaan |
|||
|
Selalu |
Sering |
Jarang |
Tidak Pernah |
||
|
Skor 4 |
Skor 3 |
Skor 2 |
Skor 1 |
||
|
1 |
|
|
|
|
|
|
2 |
|
|
|
|
|
|
3 |
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
Nilai akhir = Jumlah
skor yang diperoleh peserta didik× 100
skor tertinggi 4
2. Pengetahuan
1. Jelaskanlah hubungan antara kasih dan kesetiaan!
2. Jelaskanlah 3 contoh yang menggambarkan karakter kesetiaan!
3. Jelaskanlah perbedaan kesetiaan yang benar dengan kesetiaan yang keliru!
4. Analisalah kesetiaan yang benar menurut Alkitab!
3. Keterampilan
Menunjukkan bukti-bukti tentang
kesetiaan kepada Allah.
|
No |
Aspek Yang Dinilai |
Skala Penilaian |
||||
|
5 |
4 |
3 |
2 |
1 |
||
|
1. |
Penghayatan |
|
|
|
|
|
|
2. |
Atribut pendukung yang digunakan |
|
|
|
|
|
|
3. |
Kerja sama |
|
|
|
|
|
|
4. |
Ketepatan isi cerita |
|
|
|
|
|
Keterangan:
Kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut:
5 = sangat baik
4 = baik
3 = cukup
2 = kurang
1 = sangat
kurang
Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala
penilaian memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan
kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum di mana pilihan
kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna
sampai sangat sempurna. Misalnya: 5 = sangat kompeten, 4 = kompeten, 3 = cukup
kompeten, 2 = kurang kompeten, dan 1 = sangat kurang kompeten. Untuk
memperkecil faktor subyektivitas, perlu dilakukan penilaian oleh lebih dari
satu orang, agar hasil penilaian lebih akurat.
4. Penilaian Diskusi
Peserta didik
berdiskusi tentang memahami makna .
Aspek dan rubrik
penilaian:
1) Kejelasan dan ke dalaman informasi
a. Jika kelompok tersebut dapat memberikan kejelasan dan
ke dalaman informasi lengkap dan sempurna, skor 100.
b. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan
ke dalaman informasi lengkap dan kurang sempurna, skor 75.
c. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan
ke dalaman informasi kurang lengkap, skor 50.
d. Jika kelompok tersebut tidak dapat memberikan
penjelasan dan ke dalaman informasi, skor 25.
Contoh Tabel:
|
No. |
Nama Peserta didik |
Aspek yang Dinilai |
Jumlah Skor |
Nilai |
Ketuntasan |
Tindak Lanjut |
||
|
Kejelasan dan Kedalaman Informasi |
T |
TT |
R |
R |
||||
|
1 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dst. |
|
|
|
|
|
|
|
|
2).Keaktifan
dalam diskusi
a. Jika kelompok
tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi, skor 100.
b. Jika kelompok
tersebut berperan aktif dalam diskusi, skor 75.
c. Jika kelompok
tersebut kurang aktif dalam diskusi, skor 50.
d. Jika kelompok
tersebut tidak aktif dalam diskusi, skor 25.
Contoh Tabel:
|
No. |
Nama Peserta didik |
Aspek yang Dinilai |
Jumlah Skor |
Nilai |
Ketuntasan |
Tindak Lanjut |
||
|
Keaktifan dalam Diskusi |
T |
TT |
R |
R |
||||
|
1 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dst. |
|
|
|
|
|
|
|
|
1). Kejelasan
dan kerapian presentasi/ resume
a. Jika kelompok
tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas
dan rapi, skor 100.
b. Jika kelompok tersebut dapat
mempresentasikan/resume dengan jelas dan rapi, skor 75.
c. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan
dengan sangat jelas dan kurang rapi, skor 50.
d. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan
dengan kurang jelas dan tidak rapi, skor 25.
Contoh Tabel:
|
No. |
Nama Peserta didik |
Aspek yang Dinilai |
Jumlah Skor |
Nilai |
Ketuntasan |
Tindak Lanjut |
||
|
Kejelasan dan Kerapian Presentasi |
T |
TT |
R |
R |
||||
|
1 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dst. |
|
|
|
|
|
|
|
|
Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi (belum
mencapai ketuntasan belajar) akan dijelaskan kembali oleh guru. Guru melakukan
penilaian kembali dengan soal yang sejenis atau memberikan tugas individu
terkait dengan topik yang telah dibahas. Remedial dilaksanakan pada waktu dan
hari tertentu yang disesuaikan, contoh: pada saat jam belajar, apabila masih
ada waktu, atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah jam pelajaran selesai).
CONTOH PROGRAM
REMIDI
Sekolah :
........................
Kelas/Semester :
........................
Mat Pelajaran :
........................
Ulangan Harian
Ke :
........................
Tanggal Ulangan
Harian : ........................
Bentuk Ulangan
Harian :
........................
Materi Ulangan
Harian :
........................
(KD/Indikator : ........................
KKM :
........................
|
No |
Nama Peserta
Didik |
Nilai Ulangan |
Indikator
yang Belum Dikuasai |
Bentuk
Tindakan Remedial |
Nilai Setelah
Remedial |
Ket. |
|
1 |
|
|
|
|
|
|
|
2 |
|
|
|
|
|
|
|
dst, |
|
|
|
|
|
|
2.
Pengayaan
Dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik yang
sudah menguasai materi sebelum waktu
yang telah ditentukan, diminta untuk soal-soal pengayaan berupa
pertanyaan-pertanyaan yang lebih fenomenal dan inovatif atau aktivitas lain
yang relevan dengan topik pembelajaran. Dalam kegiatan ini, guru dapat mencatat
dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan.
3. Interaksi Guru
dengan Orang Tua
Interaksi guru
dengan orang tua perlu dilakukan, salah satunya adalah, guru meminta peserta
didik memperlihatkan kolom kolom kegiatan dalam buku teks peserta didik kepada
orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Dapat juga dengan mengunakan
buku penghubung kepada orang tua tentang perubahan perilaku peserta didik
setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung, dengan pernyataan
tertulis atau lewat telepon tentang perkembangan kemampuan terkait dengan
materi.
Jakarta, 13 Juli 2020
Disetujui oleh
Kepala SMAN 15 Jakarta Guru
Pendidikan Agama Kristen
Nurita Siregar, S.Pd Eduard
Sinaga, M.Pd.K.
NIP.
196412301988032004 NUPTK.
7043755656110023
Materi
A. Kisah Hachiko
Di sebuah stasion kereta api di Shibuya, Tokyo, Jepang, berdiri sebuah
patung perunggu dari seekor anjing yang bernama Hachiko. Patung ini didirikan
pada tahun 1934, namun hancur pada masa Perang Dunia II. Pada tahun 1948,
patung yang kedua didirikan, dan hingga sekarang patung ini sangat terkenal di
kalangan masyarakat Jepang. Patung ini didirikan di tempat yang sama yang
menjadi tempat Hachiko menunggu tuannya, Prof. Hidesaburo Ueno. Pada tahun
1924, Ueno, seorang profesor di Departemen Pertanian, Universitas Tokyo,
mengambil Hachiko seekor anjing jenis Akita – untuk ia pelihara. Sepanjang
hidup tuannya, Hachiko selalu menyambutnya setiap hari di Stasion Shibuya yang
tidak jauh dari rumah mereka. Kejadian ini berlangsung terus hingga Mei 1925
ketika Prof. Ueno tidak pulang ke rumah karena ia menderita pendarahan di otak,
dan meninggal dunia. Ueno tidak pernah kembali ke stasiun kereta api, tempat
Hachiko setia menunggu. Selama sembilan tahun – setiap hari – Hachiko
menantikan kepulangan Ueno, tepat di tempat yang sama ketika kereta api
mestinya tiba di stasiun itu. Kelakuan Hachiko ini menarik perhatian para
pengguna kereta api itu. Banyak orang yang melalui stasiun itu pernah melihat
Hachiko dan Prof. Ueno bersama-sama setiap hari. Mulanya, orang-orang tidak
begitu senang melihat Hachiko di stasiun itu, khususnya mereka yang bekerja di
situ. Namun pada 1932, salah seorang mahasiswa Prof. Ueno melihat Hachiko di
stasion itu dan mengikutinya hingga ke rumah bekas tukang kebun Prof. Ueno.
Sang tukang kebun, Kikuzaboro Kobayashi, menjelaskan latar belakang Hachiko.
Setelah itu, sang mahasiswa menerbitkan tulisan-tulisan tentang jenis anjing
Akita yang langka. Ia berulang kali mengunjungi Hachiko dan selama beberapa
tahun kemudian menerbitkan beberapa artikel tentang kesetiaan luar biasa dari
anjing itu.
Pada tahun yang sama, tepatnya 4 Oktober 1932 salah satu artikelnya tentang kisah Hachiko diterbitkan dalam salah satu koran paling terkemuka di Tokyo, Asahi Shimbun. Tulisan itu mengejutkan banyak warga Jepang, dan orang-orang mulai membawakan makanan untuk Hachiko setiap hari selama ia duduk menantikan tuannya. Nama Hachiko jadi terkenal di seluruh Jepang. Kesetiaannya kepada tuannya dianggap layak diteladani setiap orang. Guru-guru dan orangtua menggunakan Hachiko sebagai contoh yang harus ditiru oleh anak-anak. Pada 8 Maret 1935 Hachiko ditemukan mati pada sebuah jalan di Shibuya. Setahun sebelumnya masyarakat membangun sebuah patung perunggu untuk menghormati Hachiko dan kesetiaannya kepada tuannya. Hachiko sendiri hadir pada peresmian patungnya itu.
B. Yakub dan Rahel
Kejadian
29:13-28, setelah mendengar Esau bertekad untuk membunuhnya, Yakub disuruh
ibunya, Ribka, lari ke rumah pamannya, Laban. Di Haran, Yakub bertemu dengan
Rahel yang berparas cantik, anak perempuan Laban. Setelah bekerja selama
sebulan di rumah Laban, Laban menawarkan bayaran kepada Yakub. Yakub setuju
bekerja untuk Laban tanpa bayaran selama tujuh tahun. Syaratnya hanya satu,
setelah tujuh tahun ia diizinkan menikah dengan Rahel. Namun Laban adalah orang
yang licik. Setelah tujuh tahun Yakub bekerja, Laban memperdayainya dengan
menyerahkan Lea untuk dinikahi Yakub. Yakub kecewa. Namun apa boleh buat, ia
sudah resmi menikah dengan Lea.
Lalu Yakub berkata,
“Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku
bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?” Jawab Laban: “Tidak biasa orang
berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu dari pada
kakaknya. Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini; kemudian
anakku yang lain pun akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja
pula padaku tujuh tahun lagi.” (Kej. 29:25-27)
Karena
cintanya kepada Rahel, Yakub bersedia memenuhi tuntutan Laban
itu. Karena itulah ia bekerja tujuh tahun lagi
untuk Laban. Baru setelah itu
Laban bersedia menyerahkan Rahel untuk dinikahi
Yakub.
C. Kesetiaan menurut Alkitab
Kesetiaan adalah kata yang sangat penting dalam
Alkitab. Kata “setia” atau “kesetiaan” muncul sebanyak 130 kali di dalam
seluruh Alkitab. Di dalam Perjanjian Lama kata “kasih setia” muncul sebanyak
167 kali dan “kesetiaan” 52 kali. Di dalam Kitab Mazmur sendiri kata “kasih
setia” muncul masing-masing sebanyak 110 kali dan “kesetiaan” 28 kali. Dari sini
saja kita sudah bisa melihat betapa pentingnya “kesetiaan” di dalam pemahaman
Alkitab. Kata “setia” atau “kesetiaan” sangat erat hubungannya dengan “kasih.”
Dalam bahasa Ibrani, kata “kasih” diterjemahkan menjadi khesed, yang
di dalam Alkitab bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan menjadi “kasih setia.”
Mengapa demikian? Alasannya, “kasih” tidak bisa berdiri begitu saja tanpa
kesetiaan. Artinya, tidak cukup kalau orang mengatakan “Aku sayang kamu,” tanpa
menunjukkan kesetiaan kepada orang yang disayanginya itu. Dalam Alkitab, kasih
Allah digambarkan sebagai kasih yang setia. Gambaran ini pula
yang diberikan oleh Tuhan Yesus tentang sang ayah
yang menantikan anaknya yang sangat dikasihinya dalam perumpamaan Anak yang
Hilang (Luk. 15:20-24). Sikap ini bertolak belakang dengan sikap anak pertama
yang tidak senang melihat ayahnya mengadakan pesta besar untuk menyambut
kepulangan adiknya yang hilang dan kini telah kembali. Kasih Allah yang
digambarkan sebagai kasih yang penuh kesetiaan ini, dilukiskan dalam ayat-ayat
seperti Mazmur 103:8-13 yang berbunyi, TUHAN adalah penyayang
dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia
menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya
kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita
setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian
besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur
dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti
bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang
takut akan Dia.
Dalam
Kitab Ratapan 3:22 juga dikatakan, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak
habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”
Ayat-ayat inilah yang menjadi dasar dari lagu yang kita nyanyikan pada awal
pelajaran ini, “Setia-Mu Tuhanku, tiada bertara.” Ya, kesetiaan Tuhan sungguh
luar biasa. Setiap pagi dengan setia Ia membuat matahari terbit untuk menerangi
seluruh muka bumi dan menurunkan hujan yang membasahi bumi. Semua ini
memberikan kehidupan bagi setiap makhluk. Tuhan menyediakan berbagai sumber
makanan bagi kita manusia sehingga kita harus bersyukur kepada-Nya.
D. “Nyamanlah Jiwaku”
Ada
sebuah lagu yang sangat indah, yang menggambarkan perasaan seorang Kristen di
tengah-tengah perjuangan hidupnya yang berat. Lagu itu berjudul “It is Well
with My Soul”. Dalam bahasa Indonesia, lagu ini diterjemahkan menjadi
“Nyamanlah Jiwaku.” Lagu ini ditulis oleh Horatio G. Spafford. Spafford adalah
seorang pengacara yang sukses dan sangat kaya, karena memiliki berbagai
bangunan di kota Chicago, Amerika Serikat. Pada tanggal 8 hingga 10 Oktober
1871, kota Chicago dilanda kebakaran hebat yang menewaskan ratusan orang dan
menelan wilayah sekitar 9 km. Spafford ikut menolong orang-orang yang menjadi
korban kebakaran itu. Dua tahun kemudian Spafford merencanakan perjalanan ke
Eropa bersama keluarganya. Ia ingin memberikan liburan yang sangat dibutuhkan keluarganya
dan juga kesempatan untuk melupakan tragedi yang menimpa mereka. Spafford juga
ingin bergabung dengan sebuah tim penginjilan di Inggris. Istri dan keempat
anak perempuannya berangkat lebih awal dengan kapal Ville du Havre, sementara
Spafford harus tinggal beberapa hari di Chicago untuk menyelesaikan masalah
pembagian wilayah kota setelah kebakaran besar itu. Sementara menyeberangi
Samudera Atlantik, kapal yang ditumpangi istri. Spafford dan anak-anaknya
menabrak sebuah kapal lain. Anna, istrinya, selamat dan mengirimkan sebuah
telegram yang kini menjadi terkenal dengan isi yang singkat, “Saved alone…”
(“Satu-satunya yang selamat”). Tak lama kemudian, sementara dalam perjalanan
untuk menyusul istrinya, Spafford mendapatkan ilham untuk mengungkapkan perasaannya
sementara kapalnya melalui tempat yang tidak jauh dari lokasi kecelakaan yang
menewaskan anak-anaknya itu.
E. Kesetiaan kepada Tuhan
Dibagaian
sebelumnya kita sudah melihat bagaimana Tuhan Allah yang kita kenal lewat
Alkitab adalah Tuhan yang setia kepada kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Dalam
Mazmur 85:9-14 digambarkan bagaimana Tuhan Allah itu setia kepada umat-Nya.
Pada ayat 9 pemazmur mengungkapkan perkataan Allah, yaitu kata-kata penghiburan
dan perdamaian bagi umat Allah. Ayat 9-10 menjanjikan keutuhan dan
kesejahteraan bagi Israel. Kemuliaan Allah akan kembali memenuhi seluruh
negeri. Dalam ayat 11-14 kita menemukan gambaran tentang keselamatan Allah yang
didasarkan pada kasih Allah yang tidak berubah serta kesetiaan-Nya yang akan
mempertemukan umat dengan Allah dan sesamanya. Keadilan Allah akan menghadirkan
perdamaian. Namun kita harus mengingat bahwa kesuburan negeri tidak akan
terjadi begitu saja. Kepulihan bangsa yang sesungguhnya hanya akan tercapai
apabila ada keadilan dan kebenaran di seluruh negeri. Kesetiaan Allah harus
disambut dengan perubahan cara hidup seluruh bangsa Yehuda. Ini jelas sekali
terlihat dalam ayat 9-10 mazmur ini: 9 Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan
Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan
kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada
kebodohan? Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang
takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.
Umat
Allah akan kembali mengalami masa-masa yang baik, apabila di dalam hidup mereka
itu “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan
bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk
dari langit.” Tanpa respon dari umat Allah berupa kasih dan kesetiaan mereka
terhadap kesetiaan yang Allah telah lebih dahulu
perlihatkan, kesejahteraan tidak akan pulih
kembali. Dapatkah kita membuktikan hal ini? Sudah tentu! Coba perhatikan negara
negara yang maju dan makmur di seluruh dunia. Coba sebutkan nama-nama negara
itu. Lalu amati, apakah di sana ada keadilan atau ketidakadilan? Apakah di sana
banyak orang jujur ataukah orang curang? Apakah banyak pejabatnya yang korupsi
ataukah kebanyakan dari mereka hidup bersih? Dari bacaan kita ini jelas sekali
bahwa kemakmuran dan kesejahteraan akan hadir di tengah masyarakat kita apabila
di situ ada kejujuran, keadilan, kasih dan kesetiaan. Di dalam Perjanjian Baru,
orang Kristen lebih memahami kesetiaan Allah secara mendalam lewat pengutusan
Anak-Nya, Yesus Kristus, yang menyelamatkan manusia dan melepaskannya dari
kuasa maut. Dalam Yohanes 3:16 dikatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan
dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap
orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal.” Dari sini kita bisa melihat betapa besarnya kasih setia-Nya kepada
kita. atius 28:18-20. Di bagian ini kita menemukan perintah Tuhan Yesus kepada
murid-murid-Nya supaya mereka pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil
dan mengajak setiap orang melaksanakan perintah-Nya. Apakah isi perintah itu?
Tidak lain daripada mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran
kita, serta mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Dan untuk itu,
Tuhan Yesus berjanji untuk menyertai kita “sampai kepada akhir zaman.” Mungkin
muncul pertanyaan, “Kenapa Tuhan Yesus harus menyertai kita, kalau kita cuma
diperintahkan untuk mengasihi Allah dan sesama kita? Itu ‘kan gampang dan
sederhana sekali?” Pada kenyataannya mengasihi Allah dan sesama itu tidak
begitu mudah.
Orang-orang
Kristen perdana mempertaruhkan hidup mereka ketika mereka dilarang Kaisar Roma
mengasihi Allah. Sebaliknya, mereka diperintahkan, bahkan diwajibkan, menyembah
Kaisar. Mereka yang menolak perintah itu banyak yang tewas dibunuh Kaisar atau
berakhir nyawanya di arena pertandingan melawan singa atau banteng buas. Pada
zaman modern, ketika materialisme dan hedonisme menjadi nilai dan gaya hidup
banyak orang, mengasihi Allah pun menjadi sesuatu yang langka. Orang lebih
mencintai uang dan harta kekayaan. Kita sering menemukan orang yang dengan
mudah menanggalkan iman dan kesetiaannya kepada Allah, demi memperoleh harta
dan jabatan. Padahal Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan, “Kamu tidak dapat mengabdi
kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24). Mengasihi sesama pun tidak begitu
mudah. Di berbagai tempat dan zaman kita pernah menemukan bagaimana sekelompok
orang ditindas karena warna kulitnya, keyakinannya, keadaan fisiknya, dan
lain-lain. Orang kulit hitam dijadikan budak dan dianggap warga kelas dua di
Amerika Serikat dan di Afrika Selatan beberapa waktu yang lalu serta dilarang
masuk ke gereja orang kulit putih. Orang-orang Yahudi ditangkapi oleh
pemerintah Nazi di bawah Hitler karena etnis dan keyakinan mereka.
0 komentar:
Posting Komentar