Selasa, 03 November 2020

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

 

Sekolah                                   : SMAN 15 Jakarta

Mata Pelajaran                        : Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti

Kelas/Semester                       : X / Ganjil

Materi Pokok                          : Hidup Dalam Kesetiaan

Alokasi Waktu                        : 40 Menit

 

A.    Kompetensi Inti

KI-1:     Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

KI-2:   Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional.

KI-3:    Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

KI-4:    Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

 

B.     Kompetensi Dasar

KD 3.4  Menganalisis makna kebersamaan dengan orang lain tanpa kehilangan identitas

3.5  Memahami keberadaan Allah sebagai pembaharu kehidupan manusia

dan alam

4.3  Menyajikan presentasi berkaitan dengan peran Roh Kudus sebagai

pembaharu dengan mengacu pada Alkitab

 

C.    Indikator Pencapaian Kompetensi

3.4.1         Menjelaskan hubungan antara kasih dan kesetiaan

3.5.1         Membedakan kesetiaan yang benar dengan kesetiaan yang keliru.

3.6.1         Mennganalisis kesetiaan yang benar menurut Alkitab.

4.2.2         Menyajikan presentasi berkaitan dengan peran Roh Kudus sebagai

   pembaharu dengan mengacu pada Alkitab

 

D.    Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:

1. Menjelaskan hubungan antara kasih dan kesetiaan

2. Membedakan kesetiaan yang benar dengan kesetiaan yang keliru.

3. Mennganalisis kesetiaan yang benar menurut Alkitab.

4. Menyajikan presentasi berkaitan dengan peran Roh Kudus sebagai pembaharu dengan mengacu 

    pada Alkitab

 

E.     Materi Pembelajaran

Hidup Dalam Kesetiaan https://www.youtube.com/watch?v=bj5cZUVQYko

1.    Contoh-contoh kesetiaan

2.    Hubungan antara kasih dan kesetiaan

3.    Kesetiaan yang benar dan kesetiaan yang keliru

4.    Kesetiaan menurut Alkitab

 

F.     Metode Pembelajaran

Model Pembelajaran         : Discovery Learning

Metode                              : Ceramah, Tanya jawab dan diskusi

 

G.    Media Pembelajaran

Media :         Worksheet atau lembar kerja (siswa)

·                                                  Lembar penilaian

·                                                  LCD Proyektor

 

Alat/Bahan :

·                Spidol dan papan tulis

·                  Laptop & infocus

 

H.    Sumber Belajar

·         Buku Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas X, Kemendikbud, Tahun 2017

·         Buku refensi yang relevan,

·         Bahan Alkitab: Kejadian 29:13-28; Mazmur 85:8-14; Matius 28:18-20; Yohanes 3:16

·         Lingkungan setempat

 

Kegiatan Pendahuluan (5 Menit)

Guru :

Orientasi

Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan berdoa  untuk  memulai pembelajaran

Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin

Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.

Aperpepsi

 

Menanyakan pengalaman peserta didik perihal kesetiaan

Motivasi

Apabila materi dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan kembali tentang materi : Hidup Dalam Kesetiaan

Menyampaikan tujuan pembelajaran

 

 

Pemberian Acuan

Memberitahukan  materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.

Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang  berlangsung

Pembagian kelompok belajar

Kegiatan Inti ( 30 Menit )

Sintak Model Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Mengamati

Guru meminta peserta didik mengamati cuplikan video yang ditayangkan 

Peserta didik mengamati cuplikan video yang ditayangkan 

 

 

 

Menanya

Guru menanyakan kepada  peserta didik,  sehubungan dengan cuplikan video yang ditayangkan tentang kesetiaan Yakub

Berpikir Kritis

Peserta didik menjawab, perihal kesetiaan Yakub terhadap pamannya Laban.

 

Kolaborasi (Kerjasama)

Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:

 

Mengumpulkan informasi

Peserta didik menjawab pertanyaan tentang kesetiaan Yakub

1. Apa yang kamu temukan dalam cerita ini tentang kesetiaan?

2. Apa kaitan antara cinta dengan kesetiaan? 

3. Jelaskan contoh-contoh tentang kesetiaan di dalam hidup sehari-hari

4). Jelaskan bagaimana kesetiaan itu mencerminkan cinta kasih seseorang kepada orang lain (orangtua atau anak).

Mempresentasikan ulang

Peserta didik mengkomunikasikan dengan mempresentasikan kesetiaan Yakub sesuai dengan pemahamannya.

Mengeksplorasi

Guru mengajak peserta didik untuk mengeksplorasi isi materi pembelajaran,  Hidup dalam Kesetiaan

1. Peserta didik menyimak penjelasan materi : Hidup dalam Kesetiaan

 

2. Mengajukan pertanyaan atas hal-hal yang belum dipahami dari materi : Hidup dalam Kesetiaan

 

 

 

Mengasosiasikan 

Guru mengajak peserta didik untuk menghubungkan substansi materi pembelajaran dengan kenyataan sehari-hari yaitu Hidup dalam Kesetiaan

Peserta didik menghubungkan substansi materi pembelajaran dengan kenyataan sehari-hari sehubungan dengan Hidup dalam Kesetiaan

1. Kepada Allah

2. Kepada orang tua

3. Sekolah

4. Dunia kerja kelak

Mengkomunikasikan

Guru membimbing peserta didik untuk melaporkan,  mengungkapkan atau mempresentasikan kajian yang telah dilaksanakan.

Berkomunikasi

Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan

* Materi Hidup dalam Kesetiaan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan sopan.

Peserta didik diminta untuk menjawab, ya atau tidak mengenai sikap di bawah ini:

1. Kalau kamu benar-benar teman yang setia,

kamu harus menolong aku waktu ulangan nanti.

Ya / Tidak

2. Kamu harus menunjukkan kesetiaan kamu

kepada negara dengan mendukung semua

program pemerintah, apapun program tersebut.

Ya / Tidak

3. Kalau kamu memang bagian dari kelompok

kami, kamu harus ikut dalam tawuran melawan

anak SMA “Kebon Pisang” nanti siang!

Ya / Tidak

4. Temanmu mengalami musibah karena rumah

nya di permukiman yang ilegal kebakaran.

Teman-teman mengajak kamu mengumpulkan

uang untuk menolong dia dan keluarganya.

Ya / Tidak

5. Hari Jumat depan adalah “hari kejepit nasional”,

karena hari Kamisnya kita libur. Mari kita ramai

ramai membolos!

Ya / Tidak

 

* Mempresentasikan jawaban siswa

* Mengemukakan  pendapat  atas presentasi yang dilakukan dan ditanggapi oleh yang lain

Catatan : Selama pembelajaran  Hidup dalam Kesetiaan berlangsung, guru mengamati sikap siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme,  disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan

Kegiatan Penutup (5 Menit)

Peserta didik :

Membuat kesimpulan dengan bimbingan guru tentang point-point dalam kegiatan pembelajaran tentang materi  Hidup dalam Kesetiaan.

Mengadakan Evaluasi pembelajaran

Mengagendakan pekerjaan rumah.

Mengagendakan materi yang harus dipelajari pada pertemuan berikutnya.

 

Guru :

Mengakhiri Kegiatan Pembelajaran dengan Berdoa.


I.         Penilaian Hasil Pembelajaran

1.      Penilaian Skala Sikap

Berilah tanda “centang” (√) yang sesuai dengan kebiasaan kamu terhadap pernyataan-pernyataan yang tersedia!

1. Menghayati nilai-nilai Kristiani: kesetiaan, kasih dan keadilan dalam kehidupan sosial.

2. Meneladani Yesus dalam mewujudkan nilai-nilai Kristiani: kesetiaan, kasih dan keadilan dalam kehidupan sosial.

3. Bersyukur kepada Tuhan yang telah terlebih dahulu memperlihatkan kasih-Nya yang penuh pengorbanan.

No

Pernyataan

Kebiasaan

Selalu

Sering

Jarang

Tidak Pernah

Skor 4

Skor 3

Skor 2

Skor 1

1

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

Nilai akhir = Jumlah skor yang diperoleh peserta didik× 100

skor tertinggi 4

 

2. Pengetahuan

1. Jelaskanlah hubungan antara kasih dan kesetiaan!

2. Jelaskanlah 3 contoh yang menggambarkan karakter kesetiaan!

3. Jelaskanlah perbedaan kesetiaan yang benar dengan kesetiaan yang keliru!

4. Analisalah kesetiaan yang benar menurut Alkitab!

 

3. Keterampilan

Menunjukkan bukti-bukti tentang kesetiaan kepada Allah.

No

Aspek Yang Dinilai

Skala Penilaian

5

4

3

2

1

1.

Penghayatan

 

 

 

 

 

2.

Atribut pendukung yang digunakan

 

 

 

 

 

3.

Kerja sama

 

 

 

 

 

4.

Ketepatan isi cerita

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

Kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut:

5 = sangat baik

4 = baik

3 = cukup

2 = kurang

1 = sangat kurang

 

Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian memungkinkan penilai mem­beri nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian teren­tang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 5 = sangat kompeten, 4 = kompeten, 3 = cukup kompeten, 2 = kurang kompeten, dan 1 = sangat kurang kompeten. Untuk memperkecil faktor subyektivitas, perlu dilakukan penilaian oleh lebih dari satu orang, agar hasil penilaian lebih akurat.

 

4. Penilaian Diskusi

Peserta didik berdiskusi tentang memahami makna .

Aspek dan rubrik penilaian:

1) Kejelasan dan ke dalaman informasi

a. Jika kelompok tersebut dapat memberikan kejelasan dan ke dalaman informasi lengkap dan sempurna, skor 100.

b. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan ke dalaman informasi lengkap dan kurang sempurna, skor 75.

c. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan ke dalaman informasi kurang lengkap, skor 50.

d. Jika kelompok tersebut tidak dapat memberikan penjelasan dan ke dalaman informasi, skor 25.

 

Contoh Tabel:

No.

Nama Peserta didik

Aspek yang Dinilai

Jumlah Skor

Nilai

Ketuntasan

Tindak Lanjut

Kejelasan dan Kedalaman Informasi

T

TT

R

R

1

 

 

 

 

 

 

 

 

Dst.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2).Keaktifan dalam diskusi

a. Jika kelompok tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi, skor 100.

b. Jika kelompok tersebut berperan aktif dalam diskusi, skor 75.

c. Jika kelompok tersebut kurang aktif dalam diskusi, skor 50.

d. Jika kelompok tersebut tidak aktif dalam diskusi, skor 25.

 

Contoh Tabel:

No.

Nama Peserta didik

Aspek yang Dinilai

Jumlah Skor

Nilai

Ketuntasan

Tindak Lanjut

Keaktifan dalam Diskusi

T

TT

R

R

1

 

 

 

 

 

 

 

 

Dst.

 

 

 

 

 

 

 

 

1). Kejelasan dan kerapian presentasi/ resume

a. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas

dan rapi, skor 100.

b. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan/resume dengan jelas dan rapi, skor 75.

c. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan kurang rapi, skor 50.

d. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan kurang jelas dan tidak rapi, skor 25.

 

Contoh Tabel:

No.

Nama Peserta didik

Aspek yang Dinilai

Jumlah Skor

Nilai

Ketuntasan

Tindak Lanjut

Kejelasan dan Kerapian Presentasi

T

TT

R

R

1

 

 

 

 

 

 

 

 

Dst.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Remedial

Peserta didik yang belum menguasai materi (belum mencapai ketuntasan belajar) akan dijelaskan kembali oleh guru. Guru melakukan penilaian kembali dengan soal yang sejenis atau memberikan tugas individu terkait dengan topik yang telah dibahas. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan, contoh: pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu, atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah jam pelajaran selesai).



CONTOH PROGRAM REMIDI

 

Sekolah                                    : ........................

Kelas/Semester                        : ........................

Mat Pelajaran                           : ........................

Ulangan Harian Ke                  : ........................

Tanggal Ulangan Harian          : ........................

Bentuk Ulangan Harian           : ........................

Materi Ulangan Harian            : ........................

(KD/Indikator                         : ........................

KKM                                       : ........................

 

No

Nama Peserta Didik

Nilai Ulangan

Indikator yang Belum Dikuasai

Bentuk Tindakan Remedial

Nilai Setelah Remedial

Ket.

1

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

dst,

 

 

 

 

 

 

 

2.      Pengayaan

Dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik yang sudah menguasai materi  sebelum waktu yang telah ditentukan, diminta untuk soal-soal pengayaan berupa pertanyaan-pertanyaan yang lebih fenomenal dan inovatif atau aktivitas lain yang relevan dengan topik pembelajaran. Dalam kegiatan ini, guru dapat mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan.

 

3.      Interaksi Guru dengan Orang Tua

Interaksi guru dengan orang tua perlu dilakukan, salah satunya adalah, guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom kolom kegiatan dalam buku teks peserta didik kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Dapat juga dengan mengunakan buku penghubung kepada orang tua tentang perubahan perilaku peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung, dengan pernyataan tertulis atau lewat telepon tentang perkembangan kemampuan terkait dengan materi.

 

              

                                                                                                   Jakarta, 13 Juli 2020

Disetujui oleh                                                                  

Kepala SMAN 15 Jakarta                                               Guru Pendidikan Agama Kristen

 

 

Nurita Siregar, S.Pd                                                         Eduard Sinaga, M.Pd.K.       

      NIP. 196412301988032004                                              NUPTK. 7043755656110023

 

  

 

 

Materi

A. Kisah Hachiko

Di sebuah stasion kereta api di Shibuya, Tokyo, Jepang, berdiri sebuah patung perunggu dari seekor anjing yang bernama Hachiko. Patung ini didirikan pada tahun 1934, namun hancur pada masa Perang Dunia II. Pada tahun 1948, patung yang kedua didirikan, dan hingga sekarang patung ini sangat terkenal di kalangan masyarakat Jepang. Patung ini didirikan di tempat yang sama yang menjadi tempat Hachiko menunggu tuannya, Prof. Hidesaburo Ueno. Pada tahun 1924, Ueno, seorang profesor di Departemen Pertanian, Universitas Tokyo, mengambil Hachiko seekor anjing jenis Akita – untuk ia pelihara. Sepanjang hidup tuannya, Hachiko selalu menyambutnya setiap hari di Stasion Shibuya yang tidak jauh dari rumah mereka. Kejadian ini berlangsung terus hingga Mei 1925 ketika Prof. Ueno tidak pulang ke rumah karena ia menderita pendarahan di otak, dan meninggal dunia. Ueno tidak pernah kembali ke stasiun kereta api, tempat Hachiko setia menunggu. Selama sembilan tahun – setiap hari – Hachiko menantikan kepulangan Ueno, tepat di tempat yang sama ketika kereta api mestinya tiba di stasiun itu. Kelakuan Hachiko ini menarik perhatian para pengguna kereta api itu. Banyak orang yang melalui stasiun itu pernah melihat Hachiko dan Prof. Ueno bersama-sama setiap hari. Mulanya, orang-orang tidak begitu senang melihat Hachiko di stasiun itu, khususnya mereka yang bekerja di situ. Namun pada 1932, salah seorang mahasiswa Prof. Ueno melihat Hachiko di stasion itu dan mengikutinya hingga ke rumah bekas tukang kebun Prof. Ueno. Sang tukang kebun, Kikuzaboro Kobayashi, menjelaskan latar belakang Hachiko. Setelah itu, sang mahasiswa menerbitkan tulisan-tulisan tentang jenis anjing Akita yang langka. Ia berulang kali mengunjungi Hachiko dan selama beberapa tahun kemudian menerbitkan beberapa artikel tentang kesetiaan luar biasa dari anjing itu.

Pada tahun yang sama, tepatnya 4 Oktober 1932 salah satu artikelnya tentang kisah Hachiko diterbitkan dalam salah satu koran paling terkemuka di Tokyo, Asahi Shimbun. Tulisan itu mengejutkan banyak warga Jepang, dan orang-orang mulai membawakan makanan untuk Hachiko setiap hari selama ia duduk menantikan tuannya. Nama Hachiko jadi terkenal di seluruh Jepang. Kesetiaannya kepada tuannya dianggap layak diteladani setiap orang. Guru-guru dan orangtua menggunakan Hachiko sebagai contoh yang harus ditiru oleh anak-anak. Pada 8 Maret 1935 Hachiko ditemukan mati pada sebuah jalan di Shibuya. Setahun sebelumnya masyarakat membangun sebuah patung perunggu untuk menghormati Hachiko dan kesetiaannya kepada tuannya. Hachiko sendiri hadir pada peresmian patungnya itu.

 

B. Yakub dan Rahel

Kejadian 29:13-28, setelah mendengar Esau bertekad untuk membunuhnya, Yakub disuruh ibunya, Ribka, lari ke rumah pamannya, Laban. Di Haran, Yakub bertemu dengan Rahel yang berparas cantik, anak perempuan Laban. Setelah bekerja selama sebulan di rumah Laban, Laban menawarkan bayaran kepada Yakub. Yakub setuju bekerja untuk Laban tanpa bayaran selama tujuh tahun. Syaratnya hanya satu, setelah tujuh tahun ia diizinkan menikah dengan Rahel. Namun Laban adalah orang yang licik. Setelah tujuh tahun Yakub bekerja, Laban memperdayainya dengan menyerahkan Lea untuk dinikahi Yakub. Yakub kecewa. Namun apa boleh buat, ia sudah resmi menikah dengan Lea.

Lalu Yakub berkata,

“Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?” Jawab Laban: “Tidak biasa orang berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu dari pada kakaknya. Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini; kemudian anakku yang lain pun akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja pula padaku tujuh tahun lagi.” (Kej. 29:25-27)

Karena cintanya kepada Rahel, Yakub bersedia memenuhi tuntutan Laban

itu. Karena itulah ia bekerja tujuh tahun lagi untuk Laban. Baru setelah itu

Laban bersedia menyerahkan Rahel untuk dinikahi Yakub.

 

C. Kesetiaan menurut Alkitab

Kesetiaan adalah kata yang sangat penting dalam Alkitab. Kata “setia” atau “kesetiaan” muncul sebanyak 130 kali di dalam seluruh Alkitab. Di dalam Perjanjian Lama kata “kasih setia” muncul sebanyak 167 kali dan “kesetiaan” 52 kali. Di dalam Kitab Mazmur sendiri kata “kasih setia” muncul masing-masing sebanyak 110 kali dan “kesetiaan” 28 kali. Dari sini saja kita sudah bisa melihat betapa pentingnya “kesetiaan” di dalam pemahaman Alkitab. Kata “setia” atau “kesetiaan” sangat erat hubungannya dengan “kasih.” Dalam bahasa Ibrani, kata “kasih” diterjemahkan menjadi khesed, yang di dalam Alkitab bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan menjadi “kasih setia.” Mengapa demikian? Alasannya, “kasih” tidak bisa berdiri begitu saja tanpa kesetiaan. Artinya, tidak cukup kalau orang mengatakan “Aku sayang kamu,” tanpa menunjukkan kesetiaan kepada orang yang disayanginya itu. Dalam Alkitab, kasih Allah digambarkan sebagai kasih yang setia. Gambaran ini pula

yang diberikan oleh Tuhan Yesus tentang sang ayah yang menantikan anaknya yang sangat dikasihinya dalam perumpamaan Anak yang Hilang (Luk. 15:20-24). Sikap ini bertolak belakang dengan sikap anak pertama yang tidak senang melihat ayahnya mengadakan pesta besar untuk menyambut kepulangan adiknya yang hilang dan kini telah kembali. Kasih Allah yang digambarkan sebagai kasih yang penuh kesetiaan ini, dilukiskan dalam ayat-ayat seperti Mazmur 103:8-13 yang berbunyi, TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

Dalam Kitab Ratapan 3:22 juga dikatakan, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ayat-ayat inilah yang menjadi dasar dari lagu yang kita nyanyikan pada awal pelajaran ini, “Setia-Mu Tuhanku, tiada bertara.” Ya, kesetiaan Tuhan sungguh luar biasa. Setiap pagi dengan setia Ia membuat matahari terbit untuk menerangi seluruh muka bumi dan menurunkan hujan yang membasahi bumi. Semua ini memberikan kehidupan bagi setiap makhluk. Tuhan menyediakan berbagai sumber makanan bagi kita manusia sehingga kita harus bersyukur kepada-Nya.

 

D. “Nyamanlah Jiwaku”

Ada sebuah lagu yang sangat indah, yang menggambarkan perasaan seorang Kristen di tengah-tengah perjuangan hidupnya yang berat. Lagu itu berjudul “It is Well with My Soul”. Dalam bahasa Indonesia, lagu ini diterjemahkan menjadi “Nyamanlah Jiwaku.” Lagu ini ditulis oleh Horatio G. Spafford. Spafford adalah seorang pengacara yang sukses dan sangat kaya, karena memiliki berbagai bangunan di kota Chicago, Amerika Serikat. Pada tanggal 8 hingga 10 Oktober 1871, kota Chicago dilanda kebakaran hebat yang menewaskan ratusan orang dan menelan wilayah sekitar 9 km. Spafford ikut menolong orang-orang yang menjadi korban kebakaran itu. Dua tahun kemudian Spafford merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarganya. Ia ingin memberikan liburan yang sangat dibutuhkan keluarganya dan juga kesempatan untuk melupakan tragedi yang menimpa mereka. Spafford juga ingin bergabung dengan sebuah tim penginjilan di Inggris. Istri dan keempat anak perempuannya berangkat lebih awal dengan kapal Ville du Havre, sementara Spafford harus tinggal beberapa hari di Chicago untuk menyelesaikan masalah pembagian wilayah kota setelah kebakaran besar itu. Sementara menyeberangi Samudera Atlantik, kapal yang ditumpangi istri. Spafford dan anak-anaknya menabrak sebuah kapal lain. Anna, istrinya, selamat dan mengirimkan sebuah telegram yang kini menjadi terkenal dengan isi yang singkat, “Saved alone…” (“Satu-satunya yang selamat”). Tak lama kemudian, sementara dalam perjalanan untuk menyusul istrinya, Spafford mendapatkan ilham untuk mengungkapkan perasaannya sementara kapalnya melalui tempat yang tidak jauh dari lokasi kecelakaan yang menewaskan anak-anaknya itu.

 

E. Kesetiaan kepada Tuhan

Dibagaian sebelumnya kita sudah melihat bagaimana Tuhan Allah yang kita kenal lewat Alkitab adalah Tuhan yang setia kepada kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Dalam Mazmur 85:9-14 digambarkan bagaimana Tuhan Allah itu setia kepada umat-Nya. Pada ayat 9 pemazmur mengungkapkan perkataan Allah, yaitu kata-kata penghiburan dan perdamaian bagi umat Allah. Ayat 9-10 menjanjikan keutuhan dan kesejahteraan bagi Israel. Kemuliaan Allah akan kembali memenuhi seluruh negeri. Dalam ayat 11-14 kita menemukan gambaran tentang keselamatan Allah yang didasarkan pada kasih Allah yang tidak berubah serta kesetiaan-Nya yang akan mempertemukan umat dengan Allah dan sesamanya. Keadilan Allah akan menghadirkan perdamaian. Namun kita harus mengingat bahwa kesuburan negeri tidak akan terjadi begitu saja. Kepulihan bangsa yang sesungguhnya hanya akan tercapai apabila ada keadilan dan kebenaran di seluruh negeri. Kesetiaan Allah harus disambut dengan perubahan cara hidup seluruh bangsa Yehuda. Ini jelas sekali terlihat dalam ayat 9-10 mazmur ini: 9 Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan? Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.

Umat Allah akan kembali mengalami masa-masa yang baik, apabila di dalam hidup mereka itu “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.” Tanpa respon dari umat Allah berupa kasih dan kesetiaan mereka terhadap kesetiaan yang Allah telah lebih dahulu

perlihatkan, kesejahteraan tidak akan pulih kembali. Dapatkah kita membuktikan hal ini? Sudah tentu! Coba perhatikan negara negara yang maju dan makmur di seluruh dunia. Coba sebutkan nama-nama negara itu. Lalu amati, apakah di sana ada keadilan atau ketidakadilan? Apakah di sana banyak orang jujur ataukah orang curang? Apakah banyak pejabatnya yang korupsi ataukah kebanyakan dari mereka hidup bersih? Dari bacaan kita ini jelas sekali bahwa kemakmuran dan kesejahteraan akan hadir di tengah masyarakat kita apabila di situ ada kejujuran, keadilan, kasih dan kesetiaan. Di dalam Perjanjian Baru, orang Kristen lebih memahami kesetiaan Allah secara mendalam lewat pengutusan Anak-Nya, Yesus Kristus, yang menyelamatkan manusia dan melepaskannya dari kuasa maut. Dalam Yohanes 3:16 dikatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Dari sini kita bisa melihat betapa besarnya kasih setia-Nya kepada kita. atius 28:18-20. Di bagian ini kita menemukan perintah Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya supaya mereka pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil dan mengajak setiap orang melaksanakan perintah-Nya. Apakah isi perintah itu? Tidak lain daripada mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran kita, serta mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Dan untuk itu, Tuhan Yesus berjanji untuk menyertai kita “sampai kepada akhir zaman.” Mungkin muncul pertanyaan, “Kenapa Tuhan Yesus harus menyertai kita, kalau kita cuma diperintahkan untuk mengasihi Allah dan sesama kita? Itu ‘kan gampang dan sederhana sekali?” Pada kenyataannya mengasihi Allah dan sesama itu tidak begitu mudah.

Orang-orang Kristen perdana mempertaruhkan hidup mereka ketika mereka dilarang Kaisar Roma mengasihi Allah. Sebaliknya, mereka diperintahkan, bahkan diwajibkan, menyembah Kaisar. Mereka yang menolak perintah itu banyak yang tewas dibunuh Kaisar atau berakhir nyawanya di arena pertandingan melawan singa atau banteng buas. Pada zaman modern, ketika materialisme dan hedonisme menjadi nilai dan gaya hidup banyak orang, mengasihi Allah pun menjadi sesuatu yang langka. Orang lebih mencintai uang dan harta kekayaan. Kita sering menemukan orang yang dengan mudah menanggalkan iman dan kesetiaannya kepada Allah, demi memperoleh harta dan jabatan. Padahal Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24). Mengasihi sesama pun tidak begitu mudah. Di berbagai tempat dan zaman kita pernah menemukan bagaimana sekelompok orang ditindas karena warna kulitnya, keyakinannya, keadaan fisiknya, dan lain-lain. Orang kulit hitam dijadikan budak dan dianggap warga kelas dua di Amerika Serikat dan di Afrika Selatan beberapa waktu yang lalu serta dilarang masuk ke gereja orang kulit putih. Orang-orang Yahudi ditangkapi oleh pemerintah Nazi di bawah Hitler karena etnis dan keyakinan mereka.

Kiat Sukses Pendidikan/EduSergio

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar